Waria Pendatang Dominasi ODHA

SIDRAP, BKM -- Waria di Kabupaten Sidrap merupakan kelompok tertinggi yang tertular penyakit HIV/AIDS. Hingga akhir Desember 2012 tercatat 6 orang positif terinfeksi penyakit  mematikan ini. Secara keseluruhan ada 12 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Hal tersebut terungkap pada workshop Exit Strategy tentang  pencegahan penularan penyakit HIV/AIDS di Hotel Sidny, Pangkajene  Sidrap, yang diprakarsai Yayasan Mitra Husada Makassar (YMHM), Jumat  (28/12). Angka waria disebut itu adalah bukan penduduk asli Sidrap, melainkan pendatang dari luar daerah, semisal Wajo dan Makassar.
"Kita temukan saat pemeriksaan ada 6 orang positif terinfeksi HIV/AIDS, dari 12 orang yang terdata terjangkit selama tahun 2012 ini. Sekitar 50 persen dari 12 penderita adalah waria. Ini harus diwaspadai," ungkap staf Bidang Pengendalian Penyakit Menular (P2PL) Dinas Kesehatan Sidrap, Supriyadi yang menjadi narasumber dalam workshop, kemarin.
Menurutnya, para wanita pria (waria) ini diketahui positif setelah diperiksa pada festival waria se-Sulsel di Kelurahan Tanrutedong,  Kecamatan Dua Pitue, beberapa bulan lalu. "Saat kita periksa ada waria yang positif. Semuanya pendatang, bukan warga Sidrap. Tingginya penularan HIV/AIDS pada kelompok ini akibat prilaku seks bebas," tuturnya.
Selain itu, sambung dia, data di Dinkes Sidrap dalam kurun tiga tahun terakhir mencatat sebanyak 2.083 warga Sidrap dari 11 kecamatan yang pernah menjalani pemeriksaan. Sebanyak 31 orang dinyatakan positif terinveksi  human immunodeficiency virus (HIV)/acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
Dari angka di tahun 2012 itu, 19 kasus merupakan HIV dan 2 lainnya merupakan kasus AIDS. Banyaknya penderita ini menempatkan Sidrap pada urutan ke-12 daerah dengan penderita penyakit HIV/AIDS di Sulsel setelah Makassar dengan angka HIV 2.493 dan AIDS 740. Sementara Parepare menepati posisi kedua dengan penderita HIV  mencapai 100 kasus dan 21 AIDS.
Supriyadi mengakui, para penderita HIV/AIDS ini sebagian besar dari kategori golongan umut produktif yakni 19-39 tahun. Penularan utamanya melalui pemakaian jarum suntik untuk konsumsi narkoba dan praktik seks bebas.
"Sosialisasi sudah kami lakukan secara intensif untuk menyadarkan kelompok-kelompok itu, dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan, dari 31 kasus HIV/AIDS sejak 2010 hingga 2012, penderita yang telah meninggal dunia sebesar 15 persen dan 75 persennya masih hidup. Dari data tersebut, lanjutnya, distribusi  kasus HIV/AIDS menurut jenis kelamin adalah 38,3 persen laki-laki dan 61,7 persen perempuan. "Penderita yang masih hidup ini yang harus diwaspadai karena kemungkinan saja virusnya menular kepada warga lain," tegasnya.
Pemateri lainnya  dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sidrap, Syantiaji Safaat mengaku anggaran yang dialokasikan untuk  pencegahan dan penanggulangan penyakit ini di Sidrap masih sangat minim. Artinya masih jauh dari harapan untuk menekan angka peningkatan penyakit HIV/AIDS.
Untuk Sidrap sendiri alokasi anggaran hanya mencapai Rp100 juta  pada APBD tahun 2013. Sementara estimasi kalkulasi anggaran yang dibutuhkan mencapai  Rp 250 juta untuk maksimalnya penanggulangan kasus tersebut. Itupun, katanya, anggarannya diplot pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Transmigransi (Dissosnakertrans) Sidrap.
"Terpaksa kita siasati anggaran untuk mengakomodir semua kegiatan di lapangan. Termasuk sosialisasi ke masyarakat," tandasnya.
Salah satu aktivis peduli HIV/AIDS Sidrap, Muh Ahlan yang juga ketua panitia workshop menyebutkan, angka operasional yang diakomodir di APBD Sidrap tahun 2013 pada Dinkes soal penaggulangan HIV/AIDS hanya Rp 980 ribu pertahun. Angka ini sangat jauh dari harapan untuk menekan angka pergerkana peningkatan aksus tersebut.
"Bagaimana ceritanya kalau setahun anggarannya di Dinkes Sidrap penanganan kasus HIV/AIDS hanya Rp 980 ribu setahun. Apa yang bisa diperbuat. Itu hanya untuk biaya perjalanan dinas staf ke lapangan," ungkap Muh Ahlan yang diamini Kepala Bidang P2PL Dinkes Sidrap, Hj Andi Nurwan di sela-sela acara kemarin.
Demikian juga anggaran pembelian alat tes HIV/AIDS berupa regent cairan seharga Rp 30 juta di RSUD Nene Mallomo, dalam APBD 2013 hanya dijangkau untuk pembelian beberapa saja. (ady/rus/c)

Share

Comments are now closed for this entry

hub 081241000553 untuk pemasangan banner

kunjungi : www.rovindo.com

pusat komputer terkini dapatkan dengan harga murah untuk speksifikasi yang tidak terdapat di rovindo bisa hub 081241000553 untuk perbandingan terimakasih

Login / Registrasi






Forgot login?
Register