Warga Mulai Antipati pada Demo Tutup Jalan

MAKASSAR, BKM -- Kemacetan parah pada jalan-jalan utam

a akibat aksi unjuk rasa dalam dua hari terakhir memantik rasa antipati masyarakat. Masyarakat memandang, aksi menutup jalan tidak lagi mewakili aspirasi rakyat, melainkan bentuk-bentuk arogansi yang tidak mendidik.
"Kami kecewa sama mahasiswa. Mestinya unjuk rasa tidak perlu menutup jalan. Itu sama halnya membuat masyarakat yang susah makin susah. Kami tidak simpati lagi," ujar Marwan, warga asal Sungguminasa, Gowa, yang terjebak kemacetan panjang di depan Kampus Unismuh, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Minggu (9/12) siang.
Padahal, Marwan harus tiba di rumah kerabatnya di Sudiang sebelum pukul 13.00, untuk menghadiri hajatan akad nikah keponakannya. Marwan meninggalkan rumah sejak pukul 11.00 Wita. Pukul 11.25 ia terjebak macet di Jalan Alauddin, setelah sekelompok mahasiswa secara frontal menghadang iring-iringan truk dari dua arah, dan memalangnya di badan jalan.
Sebuah truk tangki juga dipalang membujur tepat di depan Kampus Unismuh, membuat ratusan kendaraan dari arah barat Sultan Alauddin, terjebak kemacetan. Dari arah berlawanan--arah timur Alauddin, kemacetan dalam radius 500 meter juga terjadi, saat tiga truk beroda 10 dipalang membujur di badan jalan.
Berkali-kali Marwan mencoba menghubungi kerabatnya lewat telepon genggam, mengabarkan situasi pelik yang tengah dialaminya. "Terjebak macetka ini. Mulaimi saja akadnya, jangan maki tungguka. Soalnya, jalan macet total, mahasiswa demo," ujarnya dengan wajah merah padam.
Tampak kepanikan bercampur gerah di wajah pria berkumis tebal ini. Mulutnya berkomat-kamit, mengumbar sumpah serapah.
Sementara di kiri kanannya para pengendara sepeda motor juga menyeringai menahan terik yang membakar. "Edede panasnya lagi. Ini juga mahasiswa, masa hari Minggu juga demo. Kalau demoko jangamako tutup jalan. Apami kalau begini, tidak jadi-jadimi urusanta kodong," umpat seorang ibu muda di sisi kanan Marwan.
Kemaceta parah melanda sejumlah ruas jalan dalam dua hari terakhir. Aksi unjuk rasa ini dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia yang jatuh pada 9 Desember kemarin.
Hari Sabtu lalu, kemacetan parah terjadi di sepanjang Jalan Urip Sumoharjo, depan Kampus 45 hingga Jalan Perintis Kemerdekaan akibat aksi tutup jalan oleh mahasiswa. Unjuk rasa yang sama juga terjadi di kawasan fly over dan beberapa titik di AP Pettarani.
Kemacetan hari itu berlangsung dari pukul 13.00 hingga pukul 18.00. Tak hanya di Jalan Urip dan Perintis, kemacetan meluas hingga ke jalur-jalur alternatif, seperti Jalan Abdullah Dg Sirua, Jalan Abdurahman Basalamah (Racing Centre) dan Jalan AP Pettarani.
Dg Raga, seorang pedagang ikan mengatakan, aksi mahasiswa tidak lagi mengundang simpati. Masyarakat kata dia, justru sekarang menganggap aksi mereka sudah menjurus arogan karena mengganggu ketertiban umum.
"Kami juga tidak salahkan mahasiswa demo, tapi jangan tutup jalan. Minimal, buka sedikit untuk pengendara. Kalau begini justru bukan memperjuangkan rakyat, malah merugikan," katanya.
Dg Raga menyesalkan aparat kepolisian yang tidak bisa meredakan aksi ini. "Seharusnya kan polisi bersikap tegas. Jangan biarkan mahasiswa demo sampai menutup jalan seperti itu. Kami yang susah," katanya.
Sejumlah penumpang angkot juga mengeluhkan aksi ini. Mereka menilai, perjuangan mahasiswa sudah keluar dari rel. "Ini kodong ikanku bonyokmi, bagaimana tiga jam maki ini terjebak macet," ujar Ny Ani kesal.
Salma, mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar mengungkapkan, aksi mahasiswa sudah menjurus brutal. Semestinya, aksi-aksi seperti ini ditangani aparat dengan tegas, agar tidak merugikan kepentingan umum.
Sebagai mahasiswa, Salma mengaku tidak setuju dengan unjuk rasa yang sampai menutup jalan. Pasalnya, substansi unjuk rasa sudah melenceng dari yang seharusnya.
"Masa mau memperjuangkan rakyat, tapi justru rakyat dibuat gerah. Inikan keliru. Saya rasa model unjuk rasa seperti ini harus segera direduksi. Bisa membuat masyarakat semakin antipati," katanya.
Pemerhati sosial, Muh Adminsyah, berpendapat, prilaku tidak simpati di jalanan semakin menjadi-jadi karena aparat tidak bersikap tegas. Reaksi aparat tidak lebih dari sekadar pemantau, padahal seharusnya mereka berani mengambil sikap, minimal memaksa mahasiswa membuka jalan untuk pengguna jalan.
"Ini yang membuat aksi-aksi serupa semkin menjadi-jadi. Karena mahasiswa merasa tidak ada lagi yang mampu mempresur aksi mereka. Nah, ujung-ujungnya apa? Rakyat yang jadi korban," katanya.
Admin mengaku tidak setuju dengan model unjuk rasa yang menutup jalan seperti itu. Menurutnya, ini bisa menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat yang akhirnya akan memicu konflik sosial.
"Masih ingatkan waktu masyarakat tiba-tiba marah dan menyerang mahasiswa yang sedang berunjuk rasa anarkis. Itu bentuk kemarahan spontan yang berbahaya. Kalau mahasiswa sudah berhadap-hadapan dengan masyarakat umum, efeknya sangat besar. Jadi polisi menurut saya harus bersikap sebelum itu terjadi," papar Admin.
Pergeseran prilaku mahasiswa ini menimbulkan trauma psikologi di masyarakat. Akibatnya, citra mahasiswa dan kampus menjadi buruk.
Kampus dianggap sebagai mesin pencetak generasi-generasi brutal. "Dan jangan salahkan masyarakat kalau asumsi itu muncul. Karena mereka dihadapkan pada fakta yang miris," tegasnya.
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel AKBP Endi Supendi mengatakan, polisi selalu berusaha menertibkan aksi-aksi unjuk rasa agar tidak mengganggu ketertiban umum. Menurutnya, kemacetan yang terjadi di sejumlah ruas jalan dalam dua hari terakhir telah berusaha diminimalisir, dengan membuka jalan-jalan yang ditutup secara penuh.
"Kami berusaha agar tidak terjadi kemacetan. Kita selalu meminta agar demo tidak menutup jalan. Jangan sampai pengguna jalan terganggu," katanya. (jul-ucu/sya/B)

 

Share

Komentar

 
0 #3 onex 2012-12-10 14:44
Saatx warga kota Makassar bersatu u/menolak segala bentuk demo mahasiswa yg mengganggu fasilitas umum dan tidak simpatik.
Jangan biarkan hak kita sebagai warga kota dirampas.
 
 
0 #2 ardann.. 2012-12-10 12:14
iyah.. kalau ada demo yg kelewatan ,, hantam saja,, demonnya juga,, paling ada kepentingan tertentu,,,, hari jumat yg lalu juga saya sangat kecewa,,, macetka didepan umi
 
 
0 #1 bidosto 2012-12-10 01:30
Bersatu ma Q hai sodara2 dimakassar untuk melawan itu mahasiswa pendatang dr daerahji bukan untuk belajar tp datang untuk bikin ribut ato bikin susahji org dimakassar
 

Comments are now closed for this entry

hub 081241000553 untuk pemasangan banner

kunjungi : www.rovindo.com

pusat komputer terkini dapatkan dengan harga murah untuk speksifikasi yang tidak terdapat di rovindo bisa hub 081241000553 untuk perbandingan terimakasih

Login / Registrasi






Forgot login?
Register