- Wabup Luwu Dilapor Ludahi Pensiunan PNS
- Disebut Anggota Dewan Malas, ARA cs Berang
- Sudah Terkepung, 2 Bandar Narkoba Lolos
- SPP Gratis Hanya Untuk S1, Diploma Gigit Jari
- Belum Terima Surat Kejati Agus AS: Saya Santai ji
- Agus Sebut Rp 750 Juta Sedekah
- DPRD Desak Dicopot Ilham Masih Pikir-pikir
- Roem: None Gembosi Golkar
- PNPM Bisakah Atasi Kemiskinan di Masa Depan?
- Polda Ancam Jemput Paksa Ibrahim Rewa
Butuh Revitalisasi Nilai-nilai Kultur Bagi Anak Didik
Butuh Revitalisasi Nilai-nilai Kultur Bagi Anak Didik

Wawancara
Kabag PTK Dinas Pendidikan Barru, H Kamaruddin Hasan
Sebenarnya lembaga pendidikan seperti sekolah sudah menjadi pencetus lahirnya nilai-nilai kultur. Hanya saja masih perlu dilakukan revitalisasi terhadap nilai-nilai kultur itu. Seperti apa wujudnya? Berikut petikan wawancara wartawan Berita Kota Makassar dengan Kabag PTK Dinas Pendidikan Barru yang juga Ketua DPD II KNPI Kabupaten Barru H Kamaruddin Hasan.
BKM: Mengapa lembaga pendidikan(Sekolah) perlu kembali membangun nilai-nilai kultur?
Kamaruddin: Sebenarnya sekolah atau lembaga pendidikan lainnya sudah memiliki kultur masing-masing. Hanya saja nilai itu tergerus oleh pengaruh perubahan, teknologi dan kondisi zaman sehingga nilai-nilai dari kultur itu tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan.
BKM : Selain sekolah sudah memiliki kultur. Para siswa atau mahasiswa telah memperoleh basis kultur dari lingkungan keluarga?
Kamaruddin: Tapi kultur yang ada pada siswa dan mahasiswa saat ini mengalami degradasi, sehingga nilai-nilai kultur yang ada perlu direvitalisasi kembali . Cukup banyak pesan-pesan orangtua yang sering diabaikan, ketika memberikan teguran kepada anak-anak. Contoh saja di saat selesai kita melakukan ibadah shalat kemudian sarung dan sajadah yang telah dipakai disimpan begitu saja tanpa dirapikan dengan baik. Maka orangtua memberikan teguran. Di dalam makna teguran itu tersimpan pesan-pesan moral kebaikan dan bagaimana mengajarkan ketertiban.
BKM: Lalu model revitalisasi nilai-nilai kultur seperti apa yang perlu diterapkan kepada anak didik?
Kamaruddin: Secara mendasar yang paling penting ditanamkan kepada anak didik(siswa dan mahasiswa) sejak dini adalah konsep ITTT.
BKM: Bagaimana bentuk pengejawantahan dari konsep ITTT itu?
Kamaruddin: Konsep I T T T bermakna ( I = Iqra, T= Tauhid, T= Teknologi, T= Transaksional) artinya yang pertama perlu dibangun yang namanya budaya Iqra(I), sebab budaya membaca saat ini sangat rentan dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti perubahan masyarakat itu sendiri, teknologi dan perubahan kondisi lingkungan. Budaya baca dan budaya tulis seakan dikalahkan oleh budaya dengar dan budaya pandang. Sifat ketauhidan (T) yang semakin memudar bagi kalangan masyarakat karena penghargaan kepada nilai-nilai keislaman misalnya tidak secara dini diterapkan dalam pendidikan keluarga. Kebiasaan memberi salam tidak lagi diukur sebagai kompetisi yang sehat. Tabe saja yang mesti diterjemahkan ke dalam Bahasa Bugis sebagai sesuatu yang identik dengan kata assalamu alaikum dalam Bahasa Arab. Boleh dikatakan jarang lagi diajarkan di dalam rumah tangga.
Begitu pula dengan Teknologi(T) yang sulit lagi dihindari untuk tidak dimiliki. Begitu kuatnya pengaruh teknologi, sehingga seakan menjadi kebutuhan utama dari masyarakat. Namun dibalik kehadiran teknologi itu, justru menyebabkan anak-anak semakin memberikan pelajaran yang jauh dari sikap saling menghargai. Makanya jangan heran kalau ada anak semakin jauh dari orang tuanya dengan alasan ada teknologi yang dapat menciptakan adanya komunikasi antara anak dan orang tua, meski tidak perlu ketemu secara tatap muka.
Sekolah sekarang sudah saatnya menanamkan kepada siswa tentang sikap enterprenur(sikap jiwa bisnis) dengan konsep Transaksional(T) bagian akhir dari keseluruhan I triple T ini. Dengan transaksional siswa dapat menunjukkan semua life skill yang dimiliki dan kalau kecakapan hidup ini direalisasikan. Maka tentu akan menciptakan nilai bisnis.
BKM: Menurut pandangan bapak. Apakah terjadi pergeseran terhadap nilai-nilai kultur?
Kamaruddin: Di satu sisi sudah terjadi yang seperti itu. Sebab nilai dari kearifan lokal tidak ditanamkan kepada anak-anak saat masih ada dilingkup keluarga. Sebagai contoh anak-anak kalau diajarkan berkebun menanam pisang. Tanaman ini mengandung nilai falsafah yang mengndung nilai-nilai positif dalam hidup kebersamaan. Lihat pisang yang ber anak pinang. Ketika tumbuh anaknya dan terus berkembang, tidak jauh dari induknya.
BKM: Sekarang apa yang terjadi pada generasi kita?
Kamaruddin: Memang perlu membedah nilai-nilai budaya berbasis kearifan lokal, agar anak tumbuh dengan baik Jangan ke atas tidak berpucuk dan ke bawah tidak berakar dan yang lebih mengkhawatirkan kalau sampai tercerabut dari akar budayanya dan kemudian tidak berkembang.
BKM: Lalu bagaimana peran pemuda dengan OKP-nya dalam menerapkan nilai-nilai kultur ini. Sebab siswa merupakan cikal bakal dari keberadaan pemuda dan organisasinya.
Kamaruddin: Pemuda dengan segala atribut OKP-nya, mesti ikut menghidupkan kembali nilai-nilai kultur dengan cara merevitalisasi hal tersebut. Jadi OKP harus memainkan peran karena keberadaan dari OKP juga dinilai oleh masyarakat. (Rusdi/sya)
Share






Komentar
Sebuah kesyukuran bahwa konsep pendidikan ini dimunculkan oleh sosok pemuda level ketua KNPI yg pada hari- hari seperti ini biasanya aktif berkutat pada persoalan politik praktis...
Bravo buat Kanda Dr. Kamaruddin Hasan