Polisi Buru 2 Mahasiswa UMI

MAKASSAR, BKM -- Satuan Reserse dan Kriminal Polrestabes Makassar

memburu dua mahasiswa yang terekam kamera saat terjadi bentrok di Kampus Universitas Muslim Indonesia Makassar, Kamis (20/9). Identitas keduanya telah dipastikan setelah pihak rektorat juga turut menyerahkan bukti foto, Jumat kemarin.

"Kami sudah memberikan beberapa nama mahasiswa yang terlibat dalam tawuran. Ada dua nama mahasiswa Fakultas Teknik yang identitasnya sudah jelas. Semua sudah diserahkan ke polisi. Termasuk bukti foto yang terekam," kata Wakil Rektor III UMI Prof Ahmad Gani, kemarin.
Bentrokan mahasiswa mahasiswa Fakultas Teknik UMI, Kamis lalu menewaskan seorang mahasiswa jurusan Elektro bernama Ibrahim alias Ibe. Mahasiswa angkatan 2008 ini tewas dengan luka tikaman di bagian lambung.
Ahmad mengatakan, soal pemberian sanksi kepada mahasiswa yang terlibat bentrokan akan diputuskan pihak rektorat setelah ada hasil penyelidikan kepolisian. "Kalau sudah ada hasil penyelidikan dari polisi dan terbukti melakukan tindakan penikaman akan ditindaki. Kita akan kembalikan ke orangtuanya," kata Ahmad.
Kapolsek Panakkukang Komisaris Polisi Agung Kanigoro yang dikonfirmasi terpisah mengungkapkan, kasus ini diambil alih penanganannya oleh Polrestabes Makassar. Polsekta Panakkukang hanya membackup pengamanan dalam kampus guna mengantisipasi terjadinya bentrok susulan.
Agung mengaku, sampai kemarin penyisiran di dalam kampus belum membuahkan hasil. Belum ada satupun dari pelaku bentrokan yang diamankan. Kecuali puluhan senjata tajam berupa busur, parang, clurit dan badik.
"Mengenai semua barang bukti itu sudah diserahkan ke Polrestabes dan kasusnya ditangani langsung," terangnya.

Pastikan Dipecat

Rektor UMI Prof DR Hj Masrurah Mochtar MS angkat bicara. Rektor memastikan bahwa pelaku langsung dipecat setelah ada hasil pemerikaan pihak kepolisian.
''Untuk saat ini pelakunya masih dalam pengejaran aparat kepolisian. Setelah tertangkap
langsung kita pecat,'' tegas Rektor saat memberikan keterangan kepada wartawan di kediaman pribadinya, Kamis (20/9) malam.
Saat memberikan keterangan pers rektor didampingi WR I, WR II, WR II, WR IV, Ketua Yayasan UMI, Dekan Fak Hukum UMI, Dekan Fak Teknik UMI, Dekan Fak Pertanian serta Kepala Humas UMI.
Mantan Dekan Fak Sastra ini menambahkan peristiwa yang menelan satu korban jiwa ini sudah diserahkan kepada aparat kepolisian. Pihak rektorat akan membantu aparat memberikan data dan informasi terkait keberadaan para pelaku.
Para pelaku kata dia baik oknum mahasiswa, dosen dan siapa pun terlibat akan diproses secara hukum tanpa terkecuali. Apalagi tindakan mereka sudah mencederai almamater yang dalam setahun terakhir cukup kondusif.
''Ini tidak bisa dilakukan pembiaran. Kita akan tindak tegas agar tidak terulang lagi,'' jelasnya.
Sementara itu Ketua Yayasan UMI HM Mochtar Noer Jaya meminta rektor beserta jajarannya mengawal kasus ini hingga tuntas. Setiap tindak pidana yang terjadi di dalam kampus langsung ditindak tegas dan dilaporkan kepada polisi.
''Ini tindak pidana sehingga pelakunya harus dipecat. Buat apa memelihara satu mahasiswa tapi merusak 21 ribu mahasiswa lainnya,'' tandasnya.
Mantan Rektor UMI ini juga menginstruksikan kepada rektor agar meliburkan perkuliahan sampai suasana kampus benar-benar kondusif. ''Biarkan polisi bekerja kita akan bantu agar pelakunya secepatnya terungkap,'' tegasnya.
Terkait pembiayaan bagi korban yang meninggal maupun luka semuanya ditanggung pihak rektorat. Apalagi korban luka dirawat di RS Ibnu Sina sehingga mereka tidak dikenakan pembayaran hingga benar-benar sembuh total.
''Kita akan bantu biaya RS. Apalagi RS Ibnu Sina kan juga milik UMI,'' katanya.
Moctar juga mengaku heran kenapa sampai peristiwa ini terjadi. Padahal selama masa penerimaan mahasiswa baru dan pesantren kilat di Ponpes Padanglampe UMI, Fak Teknik merupakan yang terbaik. ''Ini benar-benar musibah bagi UMI. Ini ujian dan mau atau tidak, kita harus menerimanya,'' urainya.
Kedepan kata dia setelah Pesantren Kilat tidak ada lagi embel-embel penyambutan yang dilakukan lembaga kemahasiswaan. Karena akibat penyambutan inilah hingga menimbulkan masalah dan berujung pada bentrokan serta jatuhnya korban jiwa.
''Pokoknya tidak ada lagi penyambutan Maba. Apapun alasannya tak akan diizinkan lagi. Jika ada lembaga kemahasiswaan memaksakan penyambutan Maba maka sanksinya adalah skorsing dan sanksi terberat adalah dipecat dari UMI,'' tukas Mochtar. (R9-M9/sya/B)

 

Share

Comments are now closed for this entry

hub 081241000553 untuk pemasangan banner

kunjungi : www.rovindo.com

pusat komputer terkini dapatkan dengan harga murah untuk speksifikasi yang tidak terdapat di rovindo bisa hub 081241000553 untuk perbandingan terimakasih

Login / Registrasi






Forgot login?
Register